MENIKMATI SAYURAN, BUAH, DAN AKTIVITAS FISIK, SOLUSI CERDAS MENCEGAH PENYAKIT GULA

Pengantar
Tulisan ini merupakan wujud sumbangsih penulis dalam memeriahkan peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) yang jatuh pada 25 Januari 2017 serta Hari Diabetes Sedunia  pada 14 Nopember 2016.  Judul tulisan ini erat kaitannya dengan tema HGN tahun ini yaitu “Peningkatan Konsumsi Sayur dan Buah Nusantara Menuju Masyarakat Hidup Sehat”.

Diabetes Melitus (DM) yang lazim disebut penyakit gula merupakan penyakit global endemik (Shaw, Sicre, Zimmet, 2010), dan merupakan kelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah, sebagai akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin maupun keduanya (Gustaviani, 2006).

Penderita Diabetes Melitus DM di Indonesia secara epidemiologi diperkirakan pada tahun 2030, prevalensinya mencapai 21,3 juta orang (Wild et.al, 2004). Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF), Indonesia merupakan negara ke-4 terbesar untuk prevalensi diabetes melitus dengan prevalensi 8,6% dari total penduduk. Sedangkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian akibat diabetes melitus pada kelompok usia 45-54 tahun di perkotaan menduduki ranking ke-2 yaitu 14,7% dan di pedesaan ranking ke-6 yaitu 5,8%. Temuan tersebut membuktikan bahwa penyakit diabetes melitus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat serius dan dibutuhkan penanganan yang tepat bagi penderitanya.

DM sangat ditakuti oleh dunia saat ini, karena penyakit ini menjadi jendela munculnya berbagai  penyakit degeneratif lain seperti gagal ginjal, kebutaan, jantung koroner, impotensi, kerusakan saraf, dan lain-lain. Hal ini diperkuat oleh Bilous (2002) bahwa komplikasi dari diabetes dapat terjadi pada semua organ/ semua sistem tubuh, misalnya saraf, jantung, pembuluh darah, ginjal, mata, otak, dan lain-lain.

Secara umum penderita DM terbagi dua macam yaitu tipe I dan II. DM tipe I akan selalu disuntik dengan insulin secara berkala, sebagai akibat adanya kerusakan pada  pankreas, yang menyebabkan hormon insulin yang dihasilkan tidak maksimal. Hormon insulin berperan mengubah glukosa darah menjadi glikogen di sel (hati). Khusus untuk penderita  DM tipe II, sesungguhnya hormon insulinnya cukup, tetapi hormon ini sukar masuk ke dalam sel karena resisten, mengingat  banyaknya tumpukan lemak di bawah jaringan kulit sebagai akibat dari kegemukan atau obesitas.

Tulisan ini hanya akan membahas DM tipe II karena hanya tipe ini yang relatif  dapat dicegah/ diminimalkan tingkat keparahannya dengan mengatur pola makan dan  juga aktivitas fisik (olah raga).  Pola makan yang dimaksud adalah konsumsi sayur dan buah.

 

Ada apa dengan konsumsi Buah dan Sayur dalam Pencegahan Penyakit DM ?

Hal ini tentu tidak terlepas dari  kandungan zat gizi yang dominan pada sayur dan buah yaitu serat. Serat merupakan karbohidrat kompleks dengan Indeks Glikemik (IG)  yang relatif rendah/kadar gulanya rendah sehingga bila rutin mengonsumsi sayur dan buah setiap hari,  maka akan dapat mengontrol naiknya kadar gula darah. Hal ini relevan dengan hasil riset Martin et al (2006) bahwa intik serat pangan (sereal) selama 3 hari secara signifikan meningkatkan sensitivitas insulin. Artinya bila insulin sensitif, maka hormon ini dengan mudah “mengantar” glukosa masuk ke dalam sel dan diubah menjadi glikogen di sel (hati), yang konsekwensinya  kadar glukosa (gula) darah akan terkontrol (normal).

Darah adalah cairan di luar sel. Jika hormon insulin resisten,  maka hormon ini tidak mau mengantar gula masuk ke dalam sel, akibatnya gula menumpuk dalam darah, dan pada akhirnya kelebihan gula akan dibuang bersama dengan kencing (urin). Itulah sebabnya sehingga dinamakan kencing manis, artinya urinnya mengandung gula (didatangi semut). Pada sisi yang lain, intik serat pangan (sayur dan buah) juga  dapat mengontrol kenaikan berat badan. Kegemukan dan obesitas sebagai pemicu penyakit DM dapat tercegah atau diminimalkan. The American Diabetes Association  merekomendasikan bahwa penderita DM  direkomendasikan untuk mengonsumsi 14 g serat/1000 kkal/hari untuk meningkatkan kontrol gula dan menurunkan risiko DM tipe 2, serta penyakit kardiovaskular (Bantle et al, 2007).

Tuhan telah menciptakan berbagai sayuran,buah, dan bahan pangan lain dengan warna yang berbeda-beda. Warna berbeda, kandungan gizi yang dominan juga berbeda dan peruntukannya dalam tubuh dapat saling bersinergi atau antagonis. Sayuran dan buah serta  bahan pangan dengan IG rendah seperti gandum, beras merah, kacang, jagung, dan lain-lain dapat menjadi salah satu  pilihan menu setiap hari.  Hal ini kita harus menjadi konsumen yang cerdas untuk memilih bahan makanan yang IG-nya rendah baik sayuran, buah, dan yang lainnya. Daftar bahan makanan lengkap dengan IG-nya rendah telah tertuang dalam berbagai referensi.  Kemenkes (2014) sudah menuntun kita melalui  Pesan Umum Gizi Seimbangnya bahwa “Banyak makan sayuran & cukup buah-buahan”, bahkan secara ekstrim diuraikan bahwa porsi makanan pokok dan sayuran adalah harus sama untuk sekali makan. Prof.Soekirman sesepuh Gizi Indonesia dalam berbagai kesempatan menyatakan bahwa bila kita sudah berumur 40 tahun ke atas,  rawan menderita penyakit tidak menular (degeneratif) seperti penyakit jantung koroner, DM, ginjal, kanker, stroke,dan lain-lain. Solusinya menurut beliau kita rutin menikmati BOS (Buah Olahraga Sayuran).

Kontribusi Olah Raga (Aktivitas Fisik) dalam Pencegahan dan Reduksi Risiko DM

Aktivitas fisik bertujuan menjaga kebugaran, menurunkan berat badan, dan memperbaiki sensitivitas insulin,  sehingga akan memperbaiki kendali gula darah. Aktivitas fisik yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik seperti jalan kaki, bersepeda santai, jogging, dan berenang. Keuntungan lain yang dapat diperoleh dari  olah raga adalah bertambahnya massa otot. Glukosa darah diserap oleh otot biasanya 70-90%. Orang tua atau yang kurang  gerak badan, massa otot berkurang,  sehingga pemakaian glukosa berkurang, sehingga kadar gula darah pun akan meningkat. Kombinasi intervensi diet yang IG rendah dan peningkatan aktivitas fisik berperan mengontrol kenaikan berat badan dan mencegah meningkatnya kadar glukosa darah penderita diabetes (Pan et al., 1997).

Berat badan berlebih merupakan faktor risiko yang sangat dominan terhadap terpaparnya seseorang dengan penyakit  DM tipe 2. Insidensi penyakit ini  meningkat seiring dengan tingginya prevalensi obesitas (Mokdad et al, 2001). Secara umum ada hubungan antara Indeks Massa Tubuh  (IMT) dengan diabetes,  dan perempuan mempunyai peluang yang lebih besar untuk menderita dari pada laki-laki (Willett et al, 19990. Hasil observasi kohor dari  Nurses’ Health Study (NHS), melaporkan bahwa faktor risiko yang sangat berarti dari DM adalah kegemukan (overweight) dan obesitas (Hu et al, 2001). Orang yang IMT-nya lebih dari 35 kg/m2 akan berpeluang menderita DM 38,8 kali lebih besar, dan 20,1 kali lebih besar bila IMT-nya antara 30–35 kg/m2 dibandingkan dengan IMT <23 kg/m2. Penelitian kohort dari Jepang juga melaporkan bahwa kelebihan berat badan adalah sebagai prediktor kuat kejadian diabetes (Sasai et al, 2010).

Beberapa studi juga melaporkan bahwa penurunan berat badan dapat mencegah DM. Penelitian kohor oleh NHS melaporkan bahwa perempuan yang berat badannya turun 5 kg atau lebih dalam  periode 10 tahun, menurunkan  risiko DM sebesar 50% atau lebih (Colditz et al, 1995). Lloret-Linares et al. (2008) juga melaporkan  bahwa penurunan BB  dapat meningkatkan  sensitivitas insulin, kontrol glikemik, dan menurunkan risiko diabetes

Penutup

Berdasarkan uraian di atas jelas tercermin bahwa pencegahan dan “penjinakan” risiko penyakit DM hanya dua hal yang perlu dijaga yaitu pola makan dan gaya hidup. Pola makan adalah rutin mengonsumsi bahan pangan yang IG-nya rendah atau kaya serat seperti buah dan sayuran, serta gaya hidup berupa rajin beraktivitas fisik. Kesemua hal ini dapat mengontrol kejadian kegemukan dan obesitas. Status gizi kegemukan dan obesitas adalah pemicu utama terjadinya penyakit gula/DM tipe 2. Parameter pencegahan status gizi seperti ini adalah diterapkannya Konsep Gizi Seimbang  dalam menu makanan sehari-hari. Gizi seimbang berarti susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan mempertahankan berat badan normal untuk mencegah masalah gizi (Permenkes RI No.41 Thn 2014).

Dasar pentingnya gizi seimbang sebenarnya sudah ada dalam QS. Al-A‘raf :31: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. Sabda Rasulullah SAW memperkuatnya “Tidaklah seorang anak Adam mengisi sesuatu yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya, dan jika dia harus mengerjakannya maka hendaklah dia membagi 1/3 untuk makanannya, 1/3 untuk minumannya dan 1/3 untuk nafasnya”.Wassalam

Penulis:

Dr. Nurdin Rahman, M.Si, M.Kes.

(Tenaga Pengajar Ilmu Gizi Program Studi Kesehatan Masyarakat FKIK UNTAD)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *