Simposium Gizi Nasional

Hari Gizi Nasional yang setiap tahun diperingati pada tanggal 25 Januari menjadi momentum untuk mereflesikan kemajuan dan tantangan ilmu gizi di Indonesia. Permasalahan gizi  masih  menjadi tantangan  di Indonesia. Indonesia merupakan salah satu  negara  yang  memiliki  masalah  gizi  kompleks  terutama  di  Kawasan  Timur  Indonesia (Kementerian  Kesehatan  RI 2013). Dampak permasalahan gizi sangat luas  seperti  kesakitan, kecacatan  dan  kematian  yang  berpengaruh  pada  sumber  daya  manusia  (SDM)  dan produktivitas.  Implikasi  semakin  kompleksnya  masalah  kesehatan  terkait  pangan  dan  gizi mendorong berkembangnya ilmu gizi termasuk pada bidang akademis dan profesi.

Membangun SDM seutuhnya berarti menjamin adanya peningkatan taraf hidup rakyat dari semua lapisan masyarakat dan golongan. Peningkatan taraf hidup rakyat tercermin pada kebutuhan pokok yaitu pangan, sandang, pemukiman, kesehatan, dan pendidikan. Sumber daya manusia yang berkualitas sangat dipengaruhi oleh terciptanya ketahanan pangan dan gizi suatu negara. Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik dari jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Pangan dan gizi merupakan komponen penting dalam membentuk karakter suatu bangsa. Semakin baik kualitas pangan suatu bangsa maka akan semakin baik pula citra bangsa tersebut (Magfirah, 2016).

Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan dan keserasian antara perkembangan fisik dan perkembangan mental. Pangan dan gizi juga merupakan input pembangunan, apabila pangan dan gizi tersedia dalam jumlah yang cukup dan memadai maka pembangunan dapat berjalan dengan baik dan berhasil. Status gizi dan kesehatan yang buruk merupakan penyebab utama anemia pada kehamilan yang berdampak pada meningkatnya angka kematian ibu hingga 40%. Anemia pada wanita hamil merupakan problema kesehatan yang dialami oleh wanita diseluruh dunia, lebih cenderung berlangsung di negara yang sedang berkembang dari pada negara maju. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, terdapat 37,1% ibu hamil anemia, yaitu ibu hamil dengan kadar Hb kurang dari 11,0 gram%, dengan proporsi yang hampir sama antara di kawasan perkotaan (36,4%) dan perdesaan (37,8%). Kontribusi dan terjadinya KEK dan Anemia pada ibu hamil akan mempengaruhi tumbuh kembang janin antara lain dapat meningkatkan resiko terjadinya berat bayi lahir rendah (BBLR). Ibu hamil dengan KEK memiliki resiko kesakitan yang lebih besar terutama pada trimester III kehamilan sehingga dapat mengakibatkan kelahiran BBLR.

Tuntutan pada inovasi pangan dan gizi menjadi tantangan bagi akademisi dan profesi bidang pangan dan gizi untuk bekerja keras menghasilkan sebuah solusi mengatasi permasalahan gizi kesehatan masyarakat khususnya pada kelompok yang berisiko tinggi yaitu ibu dan anak.